
6 TED Talks That Will Change the Way You Look at Your Phone

coba buka link di judul di atas dan tonton satu-satu.. hehe
from all of those videos.. i learn about something. no. i learn about many things..
betapa selama ini hidup gue telah diambil alih oleh sosial media.i write all of my thoughts randomly maybe, but i hope you all understand what i really mean.gue dulu tinggal di asrama yang tidak diperbolehkan untuk membawa telpon selular, hanya laptop, itupun dengan internet terbatas. but, still i don’t have any laptop. karena bapak tidak membelikan dan aku juga merasa tidak begitu membutuhkan, lab komputer masih bisa dimanfaatkan dengan baik. toh jarak asrama dan lab.kom ga ada satu kilo meter.
ketika lulus, i don’t have any smartphone. masih nokia 6030, peninggalan jaman smp dulu. bermodalkan hp itu kehidupan sebenarnya biasa saja, tapi mulai bermasalah ketika semua orang berkomunikasi menggunakan line, aplikasi chating, dan semua informasi kuliah diberitakan lewat facebook.
dari sini, mulailah aga ketergantungan dengan teman-teman, harus bertanya info apa aja, ada tugas baru atau engga, atau apapun itu tentang kegiatan kampus.. akhirnya bermodalkan uang tunjangan hari raya yang ga seberapa, mulailah menabung, demi sebuah smartphone. karena mungkin orang tua juga kasihan dan melihat sepertinya perlu, maka ditomboklah uang tabungan dan belilah sebuah smartphone kecil yang sesuai budget. samsung galaxy pocket.
namanya aplikasi, ya ada ada yang baru, ada yang lebih seru, memori terbatas, mau ga mau dipaksa untuk upgrade, karena udah ga bisa digunakan lagi, lemot parah.bingung, mau beli lagi tapi ga ada pemasukan, akhirnya dengan asas kepepet, ikutlah lomba fotografi, alhamdulillah menang, lumayan buat nambah tabungan beli hp baru. ya seperti sebelumnya, ditombokin juga, hasil nabung, menang lomba, dan tuker tambah, dapatlah zenfone 4.
walaupun harus diikhlaskan karena dicopet. tapi keberadaan smartphone sudah jadi essential. tinggal pergaulan juga diukur dengan seberapa aktif kita di dunia maya. lebih-lebih sekarang..
“si ini kemana ya ko ga masuk sih”“kan lagi ke sana”“ko lo tau?”“dari insta story”
“si itu kenapa putus deh sama pacarnya?”“hah? emang putus? gue aja gatau kalau dia pacaran”“ah lo mah kudet, gue liat status-statusnya di line, terus suka ngelike yang galau galau gitu, di instagramnya juga udah dihapusin gitu foto-foto sama pacarnya”
see??
sebegitu mudahnya kehidupan kita diketahui orang lain lewat sosial media.
“iih kok like gue dikit sih.. sini-sini pinjem hp lo, biar nambah like gue, nanti gantian ya”
“eh kok lo belum follow gue sih.. parah.. gue unfoll lo juga ya.. hahaha”
kan??
betapa pertemanan di sosial media jadi pemicu sahit hati yang berujung pada truly-unfollowing each other. awalnya di sosmed, berlanjut ke real life
“ah dia mah sombong ga follow gue”
sebegitu mudahnya orang judging other people through social media, padahal ya hak orang kan untuk follow atau ga follow, ga ada urusannya sengan sombong atau ramah, toh dikehidupan nyata masih tegur sapa kok? masih baik-baik aja.terus,
sekarang seberapa sering ngecek sosmed. gue sendiri aja panik kalau ada notif ga langsung gue buka
“takut penting”
padahal notif like dari instagram doang.kecemasan berlebih yang gue rasakan dari penggunaan sosmed ini. cemas ketika gue ga tau kegiatan temen-temen gue, cemas dan takut ketinggalan info terbaru yang akhirnya bela-belain scrolling timeline sampe batas terakhir lihat. cemas juga kalau harus jauh dari tempat yang ga ada jaringan internet. kemana-mana cari wifi, teathering,
hasrat untuk bisa mengabadikan kejadian saat itu dan berharap seluruh teman dan semua orang (followers) kita tau akan apa yang kita lakukan.iri sama apa yang orang lain tampilkan di dunia maya, konsumtif, semua hal ingin debeli dan dimiliki demi ketenaran dan dianggap hits. orang jalan-jalan kesana, jadi mau. orang punya ini, pengen juga, orang makan syalala, ngiler mupeng..dan ketika semua itu ga bisa gue dapet, gue kesal, emosi, questioning, why i can’t be like them. semua yang gue punya kurang, semua yang gue lakukan ga pernah ada puasnya, semua harus seperti orang lain, bahkan gue harus bisa lebih dari orang lain..
lo harus tau seberapa besar effort gue membuat feed instagram gue aesthetic? seberapa sering gue harus compare sama akun-akun aesthetic lainnya? seberapa banyak akun yang gue follow sehingga gue bisa se-nyeni mereka? bahkan setiap jalan-jalan gue sibuk dengan kamera dan sebisa mungkin harus dapet foto bagus buat stock feed instagram..
agak sedikit menyiksa ketika hobi foto grafi dijadikan suatu hal yang harus dinilai dari komen dan like.
enough with all of it..
gue seharian buka dan melihat-lihat semua sosial media gue. mulai dari facebook, twitter, ask.fm, soundcloud, path, tumblr, line, instagram.. gue lihat dan cermati.. ternyata semuanya ga ada yang important and necessary in my life gitu.. walaupun ada keraguan untuk deactivate account, well akhirnya hanya dihapusi satu persatu status yang sekiranya ga penting.
ditambah niat gue berhijrah, gue ga mau apa yang gue posting memberatkan gue nanti diakhirat.. segala yang masih buka aurat atau gimana.. bahkan yang ga ada hubungannya sama agama dan alay-alay gue hapus.. ternyata malu juga gue pernah bikin status kek gini, atau foto-foto begitu..
akun-akun masih ada tapi beberapa gue hapus yang sekiranya ga begitu penting, like ask.fm, path, soundcloud, about.me..
dan toh gue masih hidup. ahahaha
makin kesini makin berpikir lagi, beberapa akun udah dihapus, sisanya tinggal twitter, fb dan instagram. hasrat untuk ngepo masih besar, dan status yang tertinggal juga cuma tentang awareness lingkungan hidup wwf dan greenpeace. tapi, gunanya ditinggalin status yang seperti itu buat apa? biar orang tau kalau gue dulu aktif sebagai enviromentalist? toh sekarang juga masih dengan segala kebiasaan gue, belanja tanpa plastik, naik angkutan unum or jalan kaki, matikan lampu dan listrik, ga bakar-bakar, ya kalau gue bisa lakukan dengan aksi nyata ngapain gue harus pencitraan?
well, akhirnya gue hapus semua status dan foto di fb, dan twitter pun deactivate. tinggal sisa insta dan tumblr. theen..gue mikir lagi, soweiso tumblr juga bisa kok dimasukin foto, kenapa harus pake insta segala kalau emang niat gue manyalurkan hobi dan sebagai portfolio gue?
sumpah insta itu banyak banget godaannya, yang ngepoin story lah, ikutan live story, dari satu akun aja bisa lihat kemana-mana lewat tag. belum explore. timeline. akun online shop. belum kalau lihat akun selebgram yang endorse barang lucu-lucu.. hfffttt -______-
fix. gue hapus juga instagram.
secara teori di video the minimalist, emang ga harus benar-benar meninggalkan semuanya, dan jadi ga update? ambil dan pilih secukupnya, apa yang dibutuhkan apa yang engga. toh Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kita untuk hidup sederhana, ambil seperlunya, tinggalkan yang ga penting ambil yang bermanfaat. kan?
bahkan akhlak seperti itu sudah diterapkan dari kebiasaan kecil seperti makan secukupnya. tapi tetep aja gue harus ada momentum dulu biar bisa sadar dan memahami apa yang gue pelajari.
line, gue juga merasa banyak banget hal yang ga penting gue terima dari line today dan timeline. ada sih, tapi kan dari 100% isi timeline hanya 5% isinya yang bermanfaat, itupun kalau follow akun yang bermanfaat -_-, kalau isinya lelucon-lelucon ga jelas? bully orang lewat fisik? agama dijadiin bercandaan? walaupun kita tetep ketawa karena relate sama kehidupan sehari-hari tapi wasting time banget ga sih untuk lihat yang seperti itu? walaupun kita ga follow nih, tetep aja temen kita kan kalau ngelike dan ga di turn off notificationnya muncul-muncul juga di timeline, mana line today ga bisa di hide. ketimbang harus nge block orang-orang dan bikin tersinggung ya mending take over ke line-lite. emang resikonya ga bisa di line call, kan masih ada wa toh? ada no hp juga, kan itu fungsinya no hp, toh kalau emang urgent atau lagi emang kontakan sebelumnya kan InsyaAllah pasti bales, kan lagi aktif juga..
well.. sekarang emang lagi manfaatin banget site tumblr ini sih.. ih kok lo ansos sih li? hahaha.. emang dasarnya saya anaknya ansos.. semua orang punya hak kan , to do what they want to do and they believe is right?
kalau dengan plug off from social media is the only way to reduce dosa jariyah, kenapa ga dilakukan, lumayan toh?
selain itu gue juga mau mengurangi faktor apa aja yang harus gue pikirkan setiap harinya. less we have, less we have to think about.
Hmm... mantep bener...
BalasHapusOh... ya! Kebetulan saya punya "prinsip yang hampir sama" sama kamu terkait yang namanya kehidupan medsos..
BalasHapussaya ga ada bahas prinsip apa apa loh disini haha
Hapus