setelah berkutat dengan segala mental problem kemarin ini, gue memutuskan untuk mencari tau apa yang bisa gue lakukan untuk mereduce stress dan anxiety gue ini. browsing-browsing dan buka-buka yutub, ketemulah sama video ini
bener juga kata mas-mas ini. the art of letting go.setelah memahami apa itu menulis ekspresif dan self reflection, yang gue rasakan sekarang ini adalah imbas dari ke-tidak mau-an gue untuk melepaskan memori-amarah-dendam-trauma masa lalu. tuntas semua kisah hidup di 25 chapter, dan ternyata gue masih menyimpan segalanya dengan baik dan rapih. ibaratin gini. lo punya dua tangan, selama seminggu lo pegang terus semua barang yang lo anggap penting, hari pertama satu tangan lo akan penuh, hari kedua dua tangan lo akan penuh, hari ketiga dan seterusnya lo udah kayak pelayan rumah makan padang yang bawa semua piring yang ada didapur beserta lauk pauknya di kedua tangan lo. sekarang untuk minggu selanjutnya gimana? lo mau taruh itu dimana? naaah.. ini berlaku juga dengan memori. selama ini gue ga pernah cerita ke siapapun tentang masalah gue. mau gue sedih, marah, kecewa, atau apapun itu pasti gue simpan sendiri. gue bukan termasuk anak yang dekat dengan orang tua yang akan cerita semua masalah gue ke mereka. karena gue merasa ya mereka ujung-ujunngnya pasti akan nge-judge gue. dan jadilah sekarang, ketika kuliah semester akhir gue makin banyak dapet masalah dan ujian hidup, gue kelilmpungan nanganinnya. karena masalah masa lalu gue belum juga gue buang dan selesaikan.. okelah ga usah ribet harus diselesaikan, yang lalu biarlah berlalu. sekarang gimana caranya gue memperbaiki diri untuk hari ini dan masa depan, juga mengikhlaskan dan mengambil hikmah dari semua ini.
terus? apa gue harus jadi minimalist juga? emang gimana caranya? akhirnya nyari lagi video mas-mas ini. siapa tau ketemu caranya.
waah kalau dari video ini sih agak sulit. rumah ga punya, boro-boro furniture. kamar kosan ini aja yang bayarin orang tua. kek mana mau buang-buangin barang?
waduuh kurang afdhol nih.. penasaranlah. cari lagi how to be minimalist. eeehh.. tiba-tiba banyak suggest 'konmari'. bingung kan ceritanya. browsing lagi lah tentang konmari ini, karena bingung, apa hubungannya minimalist sama kata ini? ternyata di jepang, minimalis ini aga disalah artikan. sampai ada yang extreme banget. parah sih. naah konmari ini awalnya gue terjemahkan sebagai 'how to be minimalist' versi jepang.
ternyata bukan gitu juga terjemahannya. konmari ini diambil dari nama mbak yang di atas ini. marie kondo. dimana mbak ini sebenarnya membahas tentang seni bebenah. rapih. bukan berarti semua barang dibuangin sampai cuma punya satu sendok makan dirumah dan ga punya apa-apa. dan the minimalists sendiri juga ga sebegitunya. lol. yaa kadang emang ada sih orang-orang yang suka sotoy kebangetan dan jadinya gagal paham.
basically sama dengan decluttering, tapi konmari lebih menganggap kalau semua yang masih ada unsur 'spark joy' silahkan disimpan tapi dengan metode yang sudah dirancang oleh mbak marie ini. tapi kalau ga ada 'spark joy' nya ya harus dibuang. tapi berikut dengan ritualnya. silahkan cari sendiri deh ya kejelasan tentang konmari ini.
karena di postingan berikutnya gue akan mencoba metode ini untuk kamar kosan gue.
okhaay.. see you on the next post ;)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar