4.02.2017

pes·ca·tar·i·an


peskəˈterēən/  
noun. a person who does not eat meat but does eat fish.
Origin1990s: from Italian : pesce = ‘fish,’ on the pattern of vegetarian

Pescatarian adalah orang yang tidak mengkonsumsi daging tetapi tetap memakan ikan. Sebenarnya, pescatarian mirip dengan vegetarian, sama-sama tidak makan daging. Bedanya, pescatarian masih makan ikan dan semua jenis seafood.
sebenarnya ga hanya cuma seafood. pesca memang tidak memakan daging-dangingan hewan darat dan hewan berdarah panas (sapi, kerbau, ayam, bebek, dll), tapi ada beberapa yang membolehkan mengonsumsi turunannya, seperti susu, keju dan telur, walaupun memang ada yang benar-benar tidak mengonsumsi turunannya sama sekali seperti vegetarian dan vegan.
ada yang berpendapat kalau pescatarian bukan termasuk kategori vegetarian, tapi ada sebagian yang menganggap pesca termasuk vegetarian.
hmm.. kenapa bahas ini?
well, jadi begini.. saya sejak tahun 2010 melabel diri sebagai environmentalist  (a person who is concerned with or advocates the protection of the environment). selain karena tertarik dengan ilmu lingkungan, walaupun bukan yang ‘ahli’ dalam ilmu ini, saya ingin berkontribusi to create a sustainable environment. intinya saya ga mau jadi orang yang terlibat dalam perusakan bumi. itu saja.
start from 2010 saya coba untuk menolak menggunakan plastik ketika berbelanja, walaupun kadang suka diomelin orang rumah “kan lumayan plastiknya buat sampah” atau orang-orang sekitar “ga ribet apa? kan berat harus masuk tas?”.. dan lalala~ lainnya. tapi alhamdulillah masih berlangsung sampai sekarang, walaupun kadang ga bisa ditolak karena lupa bawa tas. tapi diusahakan untuk sebisa mungkin tanpa plastik.
pakai kendaraan umum atau sepeda. sedikit sulit kalau ini. walaupun saya termasuk orang yang menganut prinsip “kalau bisa jalan kaki, ngapain harus keluar ongkos”, agak sulit juga kalau kondisi sekitar ga mendukung. like trotoar yang naik turun, dipake pkl atau tukang parkir, atau dibeberapa daerah yang aksesnya mengharuskan pakai kendaraan bermotor atau pribadi. bahkan sekarang sarana menambah polusi makin gampang dan lumayan mempermudah kita sehari-hari a.k.a ojek online. ini juga sih yang masih sulit untuk dicegah bahkan untuk saya pribadi, walaupun sekarang banyak juga yang suka nyindir “hobi kamu jalan kaki ta?” yaa hahaha-in aja..
salah satu program environmentalism yang saya jalani di tahun 2015 adalah jadi vegetarian. 
saya pahami dan coba cari-cari info di internet tentang vegetarian, dan hasilnya mengecewakan bagi saya yang hobi makan. kayaknya saya ga akan sanggup untuk harus meninggalkan sate ponorogo, sate kambing, rawon, semur daging, sop daging, bebek bakar dan goreng, ikan, cumi, udang, ayam, susu, keju, like semua makanan enak-enak harus dilepas oleh seorang saya yang lahir dari keluarga gila makan dan hobinya makan-makan sampai mabok makan. ini sulit!!
(kan mulai jadi sok-ahli lingkungan dari 2010, kenapa ga coba jadi vegan dari 2010 juga? karena 2010 itu masih kelas 1 sma dan di asramaku pun makannya 5T tahu-tempe-toge-telor-terusterussan. ayam aja kalau biasanya kalian makan paha itu satu pentung, kalau di sekolahku dulu itu satu pentung bagi dua, begitupula bagian-bagian lainnya dan harus berbagi sama kakak dan adik kelas, kadang ada ceritanya yang ga kebagian jatah makan dan cuma dapet nasi, ya harus dengan lauk sendiri, entah masak mie, dimasak lagi jadi nasgor, atau dengan lauk kering seperti pilus atau abon dan kering tempe, atau harus ke warung bu toto buat beli ceplok telor or gorengan untuk jadi pendamping nasi. jadi sebenarnya ga ada masalah makanan yang berarti kalau selama sma.. yang bermasalah adalah ketika kuliah 2012, mulai mengenal makanan yang jauh lebih variatif, ya menikmati laah~)
tapi saya lihat ada satu kata yang unik, ya judul diatas. ternyata dari yang saya pelajari dari internet ternyata bisa jadi salah satu alternatif, besides saya memang pecinta seafood juga, setidaknya masih ada daging-dagingan yang dimakan, ga hanya sayur dan buah (yang sebenarnya saya sendiri ga suka dari kecil).
makin banyak browsing, makin tau banyak ilmu juga.. tentang gimana buruknya lemak berlebih dalam tubuh, kadar protein yang dibutuhkan tubuh itu berapa, dan pelbagai masalah kesehatan lainnya. terlebih saya punya riwayat kanker dari almarhum ibu. kalau saya ga jaga pola makan, ga menutup kemungkinan bibit kanker bisa tumbuh dan berkembang..
(in fact semua manusia pasti punya bibit kanker, tergantung gimana manusia menjaga tubuhnya sendiri, berhubung saya ada faktor genetik juga, jadi chance nya agak sedikit lebih besar, gituu..)
oia selain itu.. industri peternakaan sendiri berkontribusi setengah dari perusakan lingkungan yang terjadi di dunia




cukup memusingkan ya, berapa banyak air yang dibuang, berapa banyak obat yang harus disuntikkan ke hewan ternak, jadi tau juga kan? kenapa ayam di toko ayam besar (kfc, mcd, recheese, etc) dan toko ayam kecik (sabana, hisana, …fc lainnya) jarang sedia banyak bagian dada. impor cooy.. bahkan sekian bulan lalu sempat kisruh daging impor daging lokal.. hmm..
sebagai yang sok jadi ahli lingkungan ini melihat bahwa ternyata selama ini saya berkontribusi dalam perusakan lingkungan. jadi, semakin mantap lah niat untuk menjadi pescatarian, selain memang gabisa lepas sepenuhnya dari daging-dagingan (karena saya kurus sekali 50kg/170cm jadi tetap butuh asupan yang cukup), kondisi indonesia sebagai negara maritim juga ga akan mempersulit untuk cari seafood. karena yang susah adalah menahan hawa nafsu untuk berpaling dari daging dan ayam, apalagi kambing dan bebek -_-
2015 berjalan dan mulai runyam ketika ditahun ini harus mudik ke surabaya. semuanya stop. mana bisa nolak rawon, sate, bakso, dan lain sebagainya termasuk jajan-jajan santik bersama keluarga yang entah makan apa aja.. akhirnya kebablasan sampai sekarang deh hehehehe..
2017 ini setelah pelbagai permasalahan melanda (hadeuuh), akhirnya memutuskan untuk kembali lagi menjalani hidup sebagai sok-environmentalist..
ga begitu sulit karena sudah pernah dijalani toh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar